Mengapa Terjadi Kejutan di Pilgub Jabar dan Jateng?

0
4830

Hingga sepekan menjelang hari pencoblosan, sejumlah lembaga survei menyebut elektabilitas calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Barat Sudrajat – Ahmad Syaikhu (ASYIK) berada di posisi buncit. Namun Sudrajat tetap menyikapinya dengan santai meski perolehan suara diperkirakan di bawah 10 persen.

Ia berkeyakinan sama dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan: bahwa Bumi Pasundan adalah kuburan bagi surveyor dan lembaga survei.

Beberapa jam setelah pencoblosan ditutup, hasil Pilkada Jawa Barat sungguh mengejutkan. Ramalan sejumlah lembaga survei terkait elektabilitas atau tingkat keterpilihan yang dipublikasikan sebelum pemungutan suara hampir semua meleset.

Pasangan ASYIK yang diusung Partai Gerindra dan PKS dalam hitung cepat yang dikutip dari infopemilu.kpu.go.id sampai pukul 18.45 WIB, Jumat (29/6/2018) mendapatkan 28.45% (5.906.216 suara). Duet ini juga mengalahkan pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi (Demokrat – Partai Golkar) yang dalam beberapa survei lembaga elektabilitasnya selalu tertinggi.

Direktur Pusat Kajian Politik FISIP UI Aditya Perdana menyebut ketokohan pasangan calon dan gerak mesin partai serta relawan sangat mempengaruhi mobilisasi suara pemilih. “Duet ASYIK memiliki mesin partai yang militan dan solid sehingga mampu meraih suara yang signifikan,” kata Aditya dalam keterangan tertulis, Jumat (29/6/2018).

Hal yang sama, dia melanjutkan, juga terjadi dengan pasangan calon Sudirman Said – Ida Fauziyah di Jawa Tengah yang diusung Gerindra dan PKB. Di awal pencalonan, popularitas maupun elektabilitas Sudirman tak sampai lima persen. Dalam tempo tiga bulan, bergerak hingga 20-an persen, sedangkan petahana Ganjar Pranowo angkanya digambarkan sangat digdaya, sekitar 70-an persen. Tapi di hari pencoblosan, Sudirman ternyata meraih lebih dari 40 persen, dan Ganjar cuma 50-an persen.

Hasil Exit Poll Indikator menunjukkan, 65 persen kader koalisi partai pendukung solid memilih ASYIK. Hanya belasan persen kader koalisi partai pendukung ASYIK memilih pasangan lain. Sementara kader partai koalisi pendukung Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum sebanyak 37 persennya justru memilih ASYIK.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menilai melejitnya suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Jawa Barat dan Sudirman Said-Ida Fauziyah di Jawa Tengah tak lepas dari sosok Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pemilihan presiden dan wakil presiden 2014 lalu, Prabowo menang atas Joko Widodo (Jokowi) di Jawa Barat.

Pendukung Prabowo ini, kata Adjie, sangat loyal. Mereka akan memilih calon gubernur yang didukung Prabowo. “Maka kita lihat pasangan Asyik sering coba tegaskan kedekatan itu bahwa mereka adalah pilihan Prabowo, misalnya di debat muncul kaus ganti presiden,” kata Adjie.

[Detik]

Comments

comments