Ini Pernyataan Bombastis yang Bikin Berat Vonis Fredrich Yunadi

0
2043

Tok! Tok! Tok! Palu hakim dihantamkan ketua majelis hakim Saifuddin Zuhri dalam persidangan Fredrich Yunadi. Entah sudah berapa kali Saifuddin harus menengahi perdebatan yang terjadi antara Fredrich dengan jaksa KPK.

Mantan pengacara Setya Novanto itu kerap pula ditegur Saifuddin lantaran ucapan atau sikapnya dinilai tidak pantas ditunjukkan di dalam ruang sidang. Mulai dari argumennya tentang ‘luka benjolan segede bakpao di dahi Novanto’ hingga sering menyebut saksi dengan panggilan ‘situ’ membuat Fredrich ditegur hakim.

Bahkan hingga selepas pembacaan vonis terhadapnya pada Kamis, 28 Juni 2018, Fredrich masih melontarkan tudingan pada jaksa KPK hingga majelis hakim. Dia tidak terima divonis 7 tahun penjara karena dianggap terbukti melakukan perintangan penyidikan.

“Mereka (jaksa KPK dan majelis hakim) betul-betul sedang berkomplot mengubah konstitusi Indonesia, itu fakta kalian sudah lihat sendiri,” kata Fredrich berapi-api seusai menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat.

Pembawaan Fredrich yang emosional itu rupanya menjadi salah satu pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan vonis. Meski putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa KPK yaitu 12 tahun penjara.

“Terdakwa tidak terus terang di persidangan, tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, menunjukkan sikap dan tutur kata kurang sopan, dan terdakwa juga mencari kesalahan pihak lain,” ujar hakim saat membacakan hal-hal yang memberatkan hukuman Fredrich.

Berbagai pernyataan bombastis memang kerap terlontar dari Fredrich, bahkan jauh sebelum sidang perdana pembacaan dakwaannya pada 8 Februari 2018. Berikut catatan detikcom mengenai kata per kata yang pernah diucapkan Fredrich, baik di dalam maupun di luar persidangan:

1. Kesal Disebut ‘Pengacara Bakpao’
Pernyataan Bombastis yang Bikin Berat Vonis Fredrich Yunadi
Fredrich pernah merasa kesal ketika jaksa KPK bertanya pada saksi mengenai luka di kepala Novanto. Menurut Fredrich, jaksa berupaya menggiring opini.

Saat itu, jaksa KPK Takdir Suhan bertanya pada dr Michael Chia Cahaya yang sempat melihat Novanto ketika akan dirawat di RS Medika Permata Hijau. Takdir menanyakan tentang besar luka Novanto yang pernah disebut Fredrich ‘segede bakpao’.

“Bakpao apa pernah melihat?” tanya Takdir saat itu.

Fredrich pun menimpali dengan menyebut ukuran bakpao ada berbagai macam mulai dari mini, medium, hingga besar. Namun menurutnya, jaksa berupaya membuat pemahaman bahwa bakpao itu besar.

“Bapak tahu ada bakpao kecil? Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang sedang. Tadi penuntut umum bilang segini kan, Pak. Apa Saudara tahu ada mini bakpao?” kata Fredrich sambil mengepalkan tangan dan membentuk bulatan tangan kecil pada saksi.

“Penuntut umum ini menggiring seolah bakpao tuh harus besar. Dalam hal ini, pengakuan saksi tidak berdasar Pak. Ini menggiring, Pak. Gara-gara ini, saya disebut ‘pengacara bakpao’, Pak,” imbuh Fredrich.

2. Minta Saksi Disumpah Pocong hingga Teriaki Jaksa

Pernyataan Bombastis yang Bikin Berat Vonis Fredrich Yunadi
Di salah satu momen persidangan, Fredrich meminta majelis hakim menyediakan alat pendeteksi kebohongan atau lie detector untuk dipasangkan ke saksi. Tak hanya itu, dia juga meminta para saksi untuk disumpah pocong.

“Kalau saksi begini pakai lie detector atau kalau perlu saksi disumpah pocong, yang mulia,” ucap Fredrich.

Dalam persidangan lain, Fredrich juga pernah meneriaki jaksa dengan nada tinggi hingga ketokan palu hakim menengahi. Saat itu, Fredrich menanyakan tentang Peraturan Menteri Kesehatan tentang rekam medis seorang pasien. Jaksa menilai pertanyaan Fredrich terkesan mengintimidasi.

“Apa saksi tahu surat Peraturan Menkes Nomor 269 Tahun 2008 Pasal 10 ayat 2 sudah jelas mengatakan untuk penegak hukum wajib perintah pengadilan, tidak semua penegak hukum bisa meminta medical record?” tanya Fredrich pada saksi.

Atas pertanyaan itu, jaksa pada KPK M Takdir mengaku keberatan. “Izin majelis, terdakwa terkesan mengintimidasi saksi,” ucap jaksa.

“Tidak ada intimidasi, saya menjelaskan, kamu ngerti nggak,” timpal Fredrich dengan nada tinggi.

Debat pun pecah. Hingga akhirnya … tok tok tok! Hakim menengahi untuk melanjutkan kembali jalannya sidang.

3. Panggil Saksi ‘Situ’ dan Sebut ‘Bom’ di Sidang

Pernyataan Bombastis yang Bikin Berat Vonis Fredrich Yunadi
Lain lagi peristiwa heboh dalam persidangan Fredrich ketika ditegur karena kerap memanggil saksi atau jaksa dengan sebutan ‘situ’ atau ‘you’. Saat itu, jaksa bertanya pada Fredrich soal pengajuan judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK). Jaksa kemudian menanyakan hasil putusan MK dari judicial review yang diajukan.

“Apa putusannya?” tanya jaksa kepada Fredrich.

“Saya rasa tidak ada kaitannya dengan kasus ini. Situ kan bisa lihat sendiri,” jawab Fredrich.

Akibat ucapannya itu, Fredrich ditegur hakim. Namun Fredrich menyatakan hal itu diucapkannya karena terpancing pertanyaan jaksa.

“Terdakwa jangan pakai ‘situ’ ya,” tegur hakim.

Tak berapa lama kemudian, Fredrich kembali ditegur hakim. Kali ini, dia menyebut jaksa dengan panggilan ‘you’ saat menjawab pertanyaan jaksa.

“Tolong jangan pakai ‘you’ ya,” ujar hakim.

“Baik yang mulia,” ucap Fredrich menjawab teguran hakim.

Kemudian saat Fredrich menceritakan tentang tim KPK yang mendatangi rumah sakit di mana Novanto saat itu dirawat, ada ucapan ‘bom’ yang dianggap jaksa tidak pantas. Lagi-lagi, hakim mengingatkan Fredrich.

“Yang jelas, rombongan daripada KPK ada yang bawa handycam. Ada yang bawa tustel, ada yang bawa koper isinya apa saya nggak tahu. Kalau sekarang bisa-bisa bom Pak, saya nggak tahu, saya nggak ngerti isinya apa,” ucap Fredrich.

“Tidak pantas ada ucapan ‘situ’, ‘you’, kemudian tadi ada ucapan kata ‘bom’. Mohon maaf, kondisi saat ini sensitif dan sidang saat ini ditonton publik lewat media. Ada ucapan 3 huruf itu maknanya bagi KPK negatif. Kami mohon untuk ucapan terdakwa kami sangat keberatan. Sikon (situasi kondisi) saat ini tidak kondusif untuk dianggap bercandaan. Kemudian tadi KPK disebut bawa bom saat tanggal 15 November kami keberatan,” ujar jaksa KPK.

4. Sebut Jaksa KPK Udik dan IQ Jongkok

Pada akhirnya jaksa KPK menuntut Fredrich dengan hukuman 12 tahun penjara. Fredrich melawan melalui pleidoi atau nota pembelaan. Dalam pleidoinya, Fredrich balik menyerang jaksa.

“Kemudian menurut JPU mungkin asalnya dari daerah terpencil yang selalu digembar-gemborkan sebesar bakpao yang di mana Surabaya, Medan dan Semarang kota besar ada bakpao mini 2 cm. Apa yang disampaikan JPU hanya ilusi isapan jempol mencari sensi statement diwawancari media jual tampang dan udik asal usul desa JPU,” ujar Fredrich saat membacakan nota pembelaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Selain itu, Fredrich menilai jaksa KPK membuat cerita palsu mengenai pendaftaran rawat inap Novanto ke RS Permata Hijau. Menurutnya, jaksa KPK tidak memperhatikan fakta persidangan mengenai hal rawat inap Novanto.

“Fakta persidangan, yang menyuruh Novanto ke rumah sakit membuktikan terdakwa menghubungi penyidik KPK Damanik untuk segera dibawa ke rumah sakit karena tiba-tiba kecelakaan lalu lintas. Ada kemungkinan JPU ada gangguan pendengaran ketika sidang berlangsung reakaman video JPU bertolak belakang dengan sidang,” ucap Fredrich.

Jaksa pun keberatan terhadap bahasa yang digunakan Fredrich. dalam nota pembelaan atau pleidoi. Menurut jaksa KPK, bahasa yang dipakai Fredrich tidak sopan.

“Bahwa isi pleidoi yang disusun terdakwa (Fredrich) adalah cerminan kepribadian dan pengetahuan terdakwa yang minim tata bahasa yang sopan dan santun,” ujar jaksa.

“Kami keberatan disampaikan terdakwa dalam pleidoi. Seperti kata terorisme, ekstremisme, udik, fitnah dan kebohongan, serta IQ jongkok tidak pantas disampaikan persidangan,” imbuh jaksa.

5. Tuding Jaksa dan Hakim Berkomplot

Setelah divonis 7 tahun penjara, Fredrich lagi-lagi melontarkan serangan. Kali ini serangannya ditujukan tidak hanya pada jaksa, tetapi juga pada majelis hakim yang mengadilinya.

“Kalian lihat majelis hakim jadi bagian KPK, karyawan KPK, karena apa pun majelis hakim nanya pertimbangan jaksa,” kata Fredrich seusai sidang vonis.

Terkait pertimbangan dalam vonis padanya, menurut Fredrich, hakim hanya menyalin dari tuntutan jaksa. Untuk itulah, dia akan melaporkan majelis hakim yang mengadilinya ke Komisi Yudisial (KY).

“Ternyata pertimbangannya copy paste dari jaksa. Saya bisa buktikan apa yang disampaikan majelis hakim, apa yang disampaikan jaksa, 100 persen, bukan 99 persen, itu copy paste. Itu pelanggaran, akan langsung saya laporkan ke KY,” tutur dia.

“Hakim mengakui mereka itu melakukan institusional sama dengan jaksa karena mereka menyatakan kita Indonesia menganut continental, tapi mereka majelis hakim mengaku Anglo-Saxon diberlakukan. Berarti mereka betul-betul sedang berkomplot mengubah konstitusi Indonesia. Itu fakta. Kalian sudah lihat sendiri,” imbuh Fredrich.[detik]

Comments

comments