Melawan Cina, ‘New York Times’ Sebut Susi Pudjiastuti ‘Agak Gila’

0
2925

MENTERI Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, menjadi perhatian medai asing New York Times pada edisi Sabtu (9/6/2018). Menteri asal Pangandaran yang sempat sebentar menjadi siswa SMAN 1 Yogyakarta ini disebut ‘agak gila’ karena berani menantang China.

Dalam artikel ‘Saturday Profile’ di edisi online www.nytimes.com, media terkemuka Amerika Serikat itu mengangkat keberanian dan sikap tegas Susi menghadapi China dalam penenggelaman kapal pencuri ikan.

“Keluarga saya menganggap saya sedikit gila,” kata Susi yang diwawancarai di kampung halamannya di Pangandaran. Dalam artikel berjudul A ‘Little Bit of a Nut Case’ Who’s Taking On China (Seorang ‘Agak Gila’ yang Menantang China), New York Times menyebut Susi bukan tipikal perempuan Indonesia konvensional, apalagi seorang menteri yang konvensional.

Menurut New York Times, mungkin memang dibutuhkan sedikit kegilaan untuk menantang Beijing, mengacu penangkapan dua kapal penangkap ikan China di perairan Natuna pada Juni 2016. Kebijakan Susi memberantas Illegal, Unreported, Unregulated Fishing (IUUF) memang tegas untuk semua kapal pencuri ikan, termasuk dari negara-negara Asia Tenggara. Namun keberaniannya berkonfrontasi dengan Beijing yang mengejutkan dunia.

“Dengan lebih dari 13.000 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, namun kedaulatan maritimnya telah lama diabaikan. Ketika ia ditunjuk sebagai menteri pada 2014, Susi menyatakan perang terhadap kapal-kapal nelayan asing yang telah merambah perairan teritorial Indonesia,” tulis media tersebut.

Mengutip data Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), pencurian ikan oleh kapal asing menyebabkan Indonesia mengalami kerugian hingga satu miliar dolar AS setiap tahunnya. New York Times menyatakan sejak Susi menerapkan langkah tegas itu, sekitar 10.000 kapal nelayan asing dulu mencuri ikan di perairan Indonesia kini tak berani lagi. Stok perikanan Indonesia pun melonjak dua kali lipat pada periode 2013 hingga 2017.

Ketegangan dengan Beijing berawal ketika China memasukkan sebagian perairan Natuna di Laut China Selatan ke dalam peta teritorialnya yang disebut nine-dashed line (sembilan garis putus-putus). Insiden penangkapan ikan pada 2016 terjadi di perairan yang berada dalam zona ekonomi eksklusif Indonesia, sebagaimana didefinisikan oleh hukum maritim internasional.

Namun Kementerian Luar Negeri China memprotes dan menyebut jalur laut itu sebagai ‘tempat penangkapan ikan tradisional’ mereka. Susi membantahnya dengan tegas. “Orang-orang Indonesia berlayar ke Madagaskar di zaman kuno. Haruskah kami mengklaim seluruh Samudera Hindia sebagai ‘tempat penangkapan ikan tradisional’ kami?” tandasnya kepada New York Times. (Bro)

Artikel ini telah diterbitkan versi cetaknya di Harian Kedaulatan Rakyat, Senin (11/06/2018)

[KRJogja]

Comments

comments