Trump dan Jong-un: Yang Bangga dan Kecewa

0
820

SEKITAR pukul 9 pagi, Selasa 12 Juni 2018, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, muncul di Hotel Capella, Sentosa, Singapura, sebuah pulau resort dengan hotel mewah, pantai buatan, dan taman hiburan Universal Studios. Kedua pemimpin dari dua negara yang lama saling bermusuhan itu tampak berhati-hati. Setelah berjabat tangan sekitar seperempat menit, keduanya baru tersenyum.

Inilah pertemuan puncak pertama Presiden berkuasa Amerika dengan pemimpin Korea Utara, pertemuan yang sebelumnya sempat terancam batal gara-gara pernyataan pejabat Gedung Putih dan latihan perang Amerika dan Korea Selatan di Semenanjung. Bahkan, secara de facto, kedua negara sebenarnya masih dalam ‘keadaan perang’, mengingat Perang Korea (1950-1953) dengan Amerika yang berpihak kepada Selatan hanya diakhiri oleh sebuah gencatan senjata.

Baik Trump maupun Jong-un kemudian memasuki sebuah perpustakaan, lokasi pertemuan empat mata (hanya ditemani penerjemah masing-masing) yang berlangsung sekitar 40 menit. Trump, yang sebelumnya mencemooh Jong-un dengan sebutan “anak gendut gila”, pun mengakui pemimpin Korea Utara 34 tahun itu sebagai pria cerdas.

“Saya menilai dia orang yang sangat berbakat,” kata Trump yang juga merasa dia kini memiliki “ikatan khusus” dengan Jong-un, demikian seperti dikutip dari Reuters. “Saya juga memandang dia sangat mencintai negerinya.”

Sementara itu, Jong-un tampak lebih banyak diam dan tersenyum. Melalui penerjemahnya, Reuters melaporkan, pria berpendidikan Swiss itu sempat melontarkan candaan kepada Trump. “Saya pikir seluruh dunia sedang menyaksikan momen ini, dan banyak di antaranya yang akan menganggap ini sebagai adegan dari fantasi film fiksi ilmiah.”

Acara dilanjutkan dengan pertemuan antardelegasi. Trump membawa serombongan anak buahnya, seperti Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, Kepala Staf Gedung Putih John F Kelly, dan Penasehat Keamanan Nasional John Bolton. Sementara, Jong-un menghadirkan Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho, Wakil Ketua Partai Buruh Kim Yong-chol, dan Wakil Ketua Komite Sentral Partai Buruh Ri Su-yong.

Kedua pemimpin lalu meneken Pernyataan Bersama yang intinya adalah sebuah komitmen timbal balik. Trump berjanji memberi jaminan keamanan kepada Korea Utara sedangkan Jong-un berkomitmen untuk menuntaskan denuklirisasi negaranya.

Trump membanggakan hasil pertemuan dengan menggambarkannya berjalan “lebih baik daripada yang diperkirakan siapa pun”. Trump juga menilai Pernyataan Bersama tersebut bakal memastikan Pyongyang menuntaskan denuklirisasi dalam waktu secepatnya.

Namun, tak sedikit analis yang justru pesimis dengan Pernyataan Bersama itu. Bahasanya, menurut mereka, lebih sarat dengan simbol daripada sesuatu yang nyata.

“Tidak jelas apakah negosiasi lebih lanjut akan mengarah kepada tujuan akhir denuklirisasi,” kata Anthony Ruggiero, peneliti senior lembaga tangki pemikir berbasis di Washington, Foundation for Defense of Democracies. “Ini terlihat seperti mengulang negosiasi sepuluh tahun lalu dan bukan sebuah langkah maju.”

Dokumen Pernyataan Bersama, seperti dilansir Wall Street Journal, memang tak mencantumkan tahapan waktu denuklirisasi Korea Utara. Hanya ada frasa, “pada tanggal sedini mungkin” terkait dengan negosiasi lanjutan untuk mengimplementasi hasil dari pertemuan di Singapura. Begitu pun dokumen sama sekali tak menyinggung soal pencabutan sanksi yang selama ini dikenakan oleh Washington terkait program senjata nuklir Korea Utara.

Li Nan, peneliti senior Pangoal, sebuah lembaga tangki pemikir berbasis di Beijing, Cina, juga sependapat dengan Ruggiero. Dia mengatakan pertemuan itu hanya memiliki makna simbolis. “Tidak ada rincian konkret tentang denuklirisasi Semenanjung Korea dan penjelasan soal jaminan keamanan oleh Amerika,” katanya. “Terlalu dini untuk menilai ini sebagai titik balik dalam hubungan Korea Utara dan Amerika.”

Kalangan lain yang kecewa adalah pegiat hak asasi manusia. Mereka sebelumnya meminta Trump untuk menyinggung catatan buruk hak asasi Pyongyang.

Namun, bahkan menjelang pertemuan puncak, sumber-sumber di Gedung Putih mengatakan, Trump telah memutuskan untuk tidak menyebut-nyebut isu tersebut. Trump pun setia kepada keputusannya itu meskipun sempat menyatakan bahwa pertemuan dengan Jong-un tak akan terjadi jika bukan karena Otto Warmbier, mahasiswa Amerika yang meninggal tak lama setelah dibebaskan dan dipulangkan dari tahanan di Korea Utara.

Untuk sementara, setidaknya Semenanjung Korea bisa lebih tenang. Trump menyatakan, Amerika bakal menyetop latihan perang dengan Korea Selatan. Bahkan, Trump mengatakan, dengan menghentikan “perang-perangan” itu, dia bisa menghemat bujet negaranya.

“Kami akan menghentikan permainan perang yang bisa membuat kami menghemat banyak uang,” kata Trump. “Lagipula, saya rasa itu sangat provokatif.” Sebuah pernyataan yang kabarnya membuat syok pejabat di Seoul.[](Edy Y Syarif)

[IndoPress]

Comments

comments