Basa-Basi di Sarang Lobi

0
1611

KATIB Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, akhirnya berbicara dalam sebuah sesi tanya jawab pada AJC Global Forum 2018, persamuhan akbar yang mengumpulkan lebih dari 2.400 pelobi pro-Israel dari seluruh dunia di International Convention Center, Yerusalem, Ahad 10 Juni 2018. “A Conversation with Pak Yahya”, demikian sesi itu diberi nama, memberi Yahya kesempatan berbicara tak lebih dari 15 menit, seperti ditunjukkan dalam sebuah rekaman video yang dirilis AJC.

Dalam percakapan yang dipandu Rabbi David Rosen, Direktur Internasional AJC untuk Urusan Antaragama, Yahya tak sepatah kata pun menyebut “Palestina”. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu lebih banyak berbicara tentang bagaimana orang beragama harus menemukan interpretasi baru agar bisa hidup harmonis.

“Kita harus memilih rahmah (kasih sayang),” kata Yahya seperti dikutip dari situs resmi AJC. “Ketika memilih Rahmah, kita bisa berbicara keadilan karena keadilan bukan hanya tentang menuntut tapi juga tentang memberi keadilan kepada yang lain.”

Padahal, seperti ia katakan sendiri kepada NU Online, dia datang untuk Palestina. Tapi, Yahya sama sekali tak menyinggung bagaimana ketidakinginan Israel untuk berbagi Yerusalem justru bakal menghambat perdamaian dengan Palestina. Yahya juga tak berupaya mengingatkan bahwa ekspansi permukiman Yahudi di wilayah pendudukan tak akan berkontribusi positif bagi apa yang disebut “peta jalan damai” dengan Palestina.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang tampil berpidato setelah Yahya justru jauh lebih berterus terang. Dia misalnya memuji AJC yang selalu berdiri membela Israel dan keputusan AJC untuk membuka kantornya di Yerusalem 60 tahun silam. “Kami suka jika orang-orang membuka kantor dan kedutaan besar di Yerusalem,” katanya seraya disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Netanyahu juga tak lupa menekankan pentingnya kehadiran Indonesia. “Yang sangat penting, selamat datang kepada Anda dari Indonesia,” kata Bibi, sapaan akrab Netanyahu, yang kembali disambut tepuk tangan hadirin dan anggukan kepala Yahya.

Mungkin terlalu berlebihan berharap Yahya mengucapkan itu di hadapan ribuan pelobi yang sehari-harinya berjibaku membela segala kebijakan Israel. American Jewish Commitee, penyelenggara acara, merupakan organisasi lobi pro-Zionis tertua dan paling berpengaruh di Amerika Serikat. AJC Global Forum 2018 sendiri adalah acara tahunan ke-112 organisasi ini yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di luar Amerika, atau lebih tepanya di Yerusalem.

Pada periode setelah Perang Dunia I, AJC, yang berdiri pada 11 November 1906, termasuk yang berperan besar melobi Kerajaan Britania Raya — saat itu penguasa Palestina — untuk mengizinkan imigrasi lebih daripada 100 ribu Yahudi Eropa ke Palestina dengan dalih retorika anti-Semit rezim Nazi Jerman.

Pada dekade 1950-an, sebagaimana ditulis Jerusalam Post, AJC sangat membantu Israel dalam melobi Presiden Amerika, Harry Truman, untuk mempertahankan bantuan Amerika kepada Israel. Pada periode ini pula, hubungan Israel dengan Pemerintah Amerika, terutama Kementerian Luar Negeri, bak dua sisi dari koin yang sama. Semua itu bisa terjadi berkat lobi AJC.

AJC jugalah organisasi lobi pro-Israel yang memelopori kampanye melawan Resolusi 3379 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendefinisikan Zionisme sebagai rasisme pada 10 November 1975. Perlawanan AJC berbuah kemenangan pada 16 Desember 1991 ketika resolusi itu akhirnya dicabut atas tekanan dari Pemerintah Presiden George HW Bush. Ironisnya, satu dari 25 negara yang menentang pencabutan adalah Indonesia.

Lobi AJC kian berkembang hingga level internasional. Organisasi ini memiliki cabang di lebih dari 50 negara.

Salah satu contoh keberhasilan lobi AJC adalah kemungkinan Israel saat ini untuk menjadi anggota tak tetap Dewan Keamanan PBB. Meskipun telah menjadi anggota PBB sejak 1949, Israel hampir mustahil menjadi anggota Dewan Keamanan karena kelompok regional tempat Israel berada — yang didominasi negara Arab dan Muslim — selalu menolak Israel masuk ke dalam kelompoknya. Berkat lobi AJC, kelompok regional Eropa akhirnya menerima Israel dan negara Yahudi itu pun punya peluang mengajukan diri menjadi anggota Dewan Keamanan.

Saat ini, AJC berfokus melawan kampanye gerakan “Boycott, Divestment, Sanctions” atau BDS atas Israel yang digerakkan kelompok-kelompok masyarakat sipil di dunia. Pada pertengahan 2014, AJC menyerang keputusan Gereja Presbiterian Amerika untuk melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang berbisnis dengan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah pendudukan.

AJC juga kerap mengampanyekan penolakan atas tokoh-tokoh Palestina yang akan berceramah di Eropa dan Amerika, seperti aktivis Omar Barghouti yang coba mereka halangi untuk berbicara di depan Parlemen Portugal pada awal Maret 2018. Tak hanya itu, AJC tak lelah melobi PBB untuk memasukkan kelompok-kelompok perlawanan Palestina, seperti Hamas dan Hizbullah, ke dalam daftar hitam “organisasi teroris internasional”.

Dengan reputasi seperti itu, David Cronin, kolomnis Electronic Intifada, pernah menyebut AJC sebagai kelompok lobi yang kotor dan jahat.

AJC sendiri menyatakan, melalui organnya Asia Pacific Institute, terus berupaya memperkuat hubungan Israel dan komunitas Yahudi global dengan Indonesia. Mereka secara reguler menjalin kontak dengan diplomat Indonesia di Washington DC dan New York serta United States-Indonesia Society atau Usindo. Yahya sendiri aktif dalam Dewan Usindo untuk Pluralisme dan Toleransi Agama.[](Irman A

[Indopress]

Comments

comments