Hegemoni Sekulerisme Zaman Now

0
231

Oleh: Elma Damayanti
Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta

Di zaman yang penuh fitnah seperti sekarang ini, berbagai pemikiran rusak telah menjadi santapan sehari-hari. Jeratannya begitu erat, rumit, dan halus. Bahkan berhasil menjadikan seorang muslim tanpa sadar telah pelan-pelan memakluminya. Salah satunya adalah pemikiran Sekulerisme, sebuah pemikiran yang menjadi landasan khas dari sistem kapitalisme. Sekulerisme bermakna memisahkan agama dari kehidupan. Jadi, aturan Allah hanya ditempatkan di rumah-rumah ibadah, bukan dalam ranah aturan publik. Mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lain itulah ciri khas dari pemikiran ini.

Nurcholis Madjid berbicara dalam suatu diskusi dan tulisannya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional. Menurutnya, sekularisasi berbeda dengan sekularisme. Sekularisasi diartikan sebagai proses sosial politik menuju sekularisme, dengan implikasi kuat ide pemisahan negara dan agama. Sedangkan sekularisme adalah suatu paham yang tertutup, suatu ideologi tersendiri dan lepas dari agama. Inti sekularisme ialah penolakan adanya kehidupan lain di luar kehidupan duniawi ini. Sedangkan dalam kitab Nizham Al-Islam oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mengungkapkan bahwa sekularisme adalah sebuah akidah yang memisahkan agama dari kehidupan, namun pada hakekatnya pengakuan secara tidak langsung akan adanya agama hanya sekadar formalitas belaka. Tentu hal ini sangat bertolakbelakang dengan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, sempurna, dan paripurna.

Namun, virus sekulerisme ini semakin menjangkiti tubuh kaum muslimin zaman now termasuk dalam sebuah negara yang digadang-gadang sebagai negara Islam yakni Kerajaan Saudi Arabia. Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman meresmikan pembangunan taman hiburan raksasa Qiddiya, Sabtu (28/4/2018). (Kompas.com, 29/04/2018). Didampingi Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Pendanaan Investasi Publik, Saudi bersiap untuk meningkatkan sektor hiburan dan industri pariwisata dalam program bertajuk “Visi 2030”.

Tak hanya itu, saat ini bioskop pertama di Saudi juga telah dibuka dan Black Panther didaulat sebagai film perdana yang diputar. Sebelumnya, penduduk Saudi menghabiskan miliaran dollar setiap tahun untuk melihat film dan mengunjungi taman hiburan di negara tetangga, seperti Dubai dan Bahrain. Kini, orang Saudi bisa lebih mudah menikmatinya di negeri sendiri tanpa harus bersusah payah ke negeri orang.
Alasan Saudi memutuskan untuk mengembangkan proyek industri hiburan dan pariwisata tentu tidak lepas dari motif ekonomi. Seperti yang kita ketahui mulanya Arab Saudi menitikberatkan sektor ekonominya pada limpahan minyaknya. Kini, Arab Saudi berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap minyak melalui pengembangan proyek industri hiburan dan pariwisata.

Tentu hal ini sudah tidak sepantasnya dilakukan. Sebagai negara yang di dalamnya terdapat dua kota suci yang dijaga oleh Allah SWT yakni Mekkah dan Madinah, mendirikan pusat hiburan dan pariwisata yang justru melalaikan tentu tidak sesuai dengan syariat Islam. Terlebih lagi pembangunannya hanya demi keuntungan duniawi semata. Inilah perang pemikiran (ghazwul fikr) yang telah berhasil merasuki jiwa-jiwa kaum muslim. Dimana di satu sisi nilai keislaman begitu terasa saat di sebagian wilayah, tetapi di sisi lain kehidupan yang hedonis menyelimuti wilayah lainnya. Sungguh ironi yang teramat miris. Padahal, Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengambil Islam secara kaffah.

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah:208)

Jika kaum kafir maju karena meninggalkan agamanya, hal ini justru berbeda dengan umat Islam yang seharusnya menjadikan seluruh aturan kehidupan hanya diatur oleh Islam. Karena Islam bukan sekedar agama yang mengatur hubungan Ia dengan Tuhan-Nya, tetapi mengatur pula hubungannya dengan dirinya sendiri dan manusia lainnya. Terpisahnya aturan Islam dari kehidupan manusia, justru menjadi pintu masuk kehancuran umat Islam. Karena, manusia tidak lagi diatur oleh aturan Tuhan Yang Maha Tahu, tetapi oleh manusia yang serba kurang, lemah, dan terbatas.

Kemajuan umat Islam bukan dengan tingginya gedung-gedung, ramainya hiruk pikuk malam yang gelap, atau bahkan teknologi-teknologi yang melalaikan penggunanya. Tetapi semakin bertaqwanya tiga pilar kehidupan yakni individu, masyarakat, dan negara kepada Allah SWT Yang Maha Menciptakan Segalanya. Berkiblat pada Barat, termasuk mengadopsi ide-idenya hanya semakin menyulam kekalahan umat Islam. Hal ini tentunya menjadi bencana dalam tubuh umat Islam itu sendiri.

Hakekatnya negeri yang diberkahi adalah negeri yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bukan malah mengadopsi ide-ide kafir yang pada akhirnya, lama kelamaan, hanya mengundang murkanya Allah SWT. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. “ (Surat Al-A’raaf : 96)

Secara kasat mata, pemikiran sekuler ini tidak disadari oleh semua orang, bahkan dari hal yang terkecil sekalipun. Seringnya, Islam dianggap candu oleh kaum muslim itu sendiri. Dalam dunia pendidikan, sosial budaya, ekonomi, dan politik membawa aturan Islam dianggap mendiskiminasi. Jadi tidak heran banyak kaum muslimin seperti halnya hewan bunglon yang mudah berubah-ubah idealisnya sesuai lingkungan yang ada. Terkadang dengan alasan dakwah, konsistensi keislaman dalam fikiran kaum muslimin hilang begitu saja tatkala dihadapkan dengan anak buah sekulerisme seperti HAM, demokrasi, toleransi, dan lain sebagainya. Hegemoni sekulerisme zaman now telah menjadi sebuah program yang tidak main-main yang tentu saja sudah menjadi agenda besar kaum kafir untuk menghancurkan umat Islam, termasuk secara perlahan-lahan mensekulerkan negeri-negeri Islam di negara Timur Tengah.

Wallahua‘lam bishowab.

Comments

comments