Bus tak Dikenal dan Insiden Maut Sembako Monas

0
763

Tidak ada yang berfirasat, Sabtu (28/4) akan menjadi hari terakhir bagi dua anak Pademangan Barat, Jakarta Utara, melihat puncak emas Monumen Nasional (Monas). Mereka adalah Mahesa Junaedi (12) dan Muhammad Rizki (10) yang ditengarai menjadi korban tewas dalam pembagian sembako di acara “Untukmu Indonesia”.

Sabtu pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, Mahesa menaiki sebuah bus yang rupanya masih tersisa ruang kosong untuknya. Ia ikut menukar kupon tanpa sepengetahuan kedua orang tua.

“Jadi, pagi harinya itu, ada bus yang disediain entah dari siapa itu, nah ada kursi kosong. Namanya anak-anak, pegang kupon, ada mobil kosong, diajak teman-temannya pasti senang-senang saja ikut,” papar Ketua RW 11 Pademangan Barat, Andi Pane, saat ditemui Republika.co.id di rumah Mahesa, Selasa (1/5).

Wilayahnya mendadak viral dan ramai dikunjungi awak media. Seluruh RT yang berkumpul secara kompak bahu-membahu membantu. Ada ketua RT 02, 08, 10, 11, dan 12 yang secara kompak menyebutkan warganya sudah mendapatkan kupon, tetapi tidak mendapatkan apa-apa setelah sampai di sana.

“Warga saya ada sekitar 100 orang yang dapat kupon. Tapi pas ke sana, tidak ada yang dapat sama sekali. Banyak yang pingsan juga di sana katanya dan tidak ada medis,” ujar Ketua RT 12/11 Pademangan Barat, Roy.

Imbauan dari pimpinan wilayah itu lantas diacuhkan oleh seluruh warga yang telah memegang kupon. Iming-iming sembako gratis, makan gratis, dan hadiah doorprize, telah menutup kedua telinga mereka rapat-rapat. Alhasil, mereka jalan menggunakan bus yang telah disediakan oleh orang tak dikenal.

Sesampainya di Monas, rasa kegembiraan bocah-bocah menghilangkan rasa takut akan desak-desakan. Langsung saja mereka mengantre. Dorong-dorongan pun terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Anak-anak juga ikut menjadi korban dorong-dorongan itu.

Di tengah aksi dorong-dorongan, Mahesa ditengarai lunglai dan hampir pingsan bersama yang lain. Mereka menahan terik panas matahari yang pada pukul 12.00 WIB tepat berada di atas kepala, serta menahan lapar dari pagi, ditambah lagi harus menahan dorong-dorongan.

Kondisinya sesak napas menggerakkan hati Satpol PP yang menjaga di sekitar lokasi untuk membawa Mahesa ke RS Tarakan. Dengan mobil ambulans yang telah disediakan, Mahesa dilarikan ke RS. Namun, dalam hitungan menit setibanya di RS, nyawa Mahesa tak dapat tertolong.

Khawatir anaknya tidak kunjung pulang ke rumah hingga pukul 16.00 WIB, orang tua Mahesa pun menanyakan kepada teman-teman Mahesa. Betapa terkejutnya orang tua Mahesa yang mengetahui anaknya pergi ke Monas tanpa seizin mereka dan anaknya malah bersarang di rumah sakit. Keduanya sontak mendatangi RS Tarakan, Jakarta Pusat.

Di sana ternyata Mahesa telah tiada. Kedua orang tuanya pun menangis dan meraung menatap kaku tubuh anaknya yang gemuk itu sembari memeluknya.

“Mereka masih syok, belum bisa diajak bicara. Walaupun tadi ada dari polisi dan DPRD DKI Jakarta, saya yang diminta mewakili untuk berikan pernyataan,” kata Andi Pane yang juga sebagai Sekjen Forum RT/RW DKI Jakarta.

Jajaran kepolisian dari Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat telah mendatangi rumah Mahesa untuk mengusut tuntas apa yang sebenarnya terjadi pada gelaran yang juga didukung oleh Relawan Merah Putih itu.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Santoso, juga mendatangi rumah Mahesa untuk memberikan santunan serta support bagi orang tua Mahesa. “Biarkan mereka tenang dulu, masih trauma banget. Jangan ditemui dulu ya, doakan saja dulu yang terbaik, kasihan,” ucap Santoso saat ditemui Republika di kediaman Mahesa di RT 04/11 Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara.

Kemudian, Ketua RW 11 Pademangan Barat siap memberikan bantuan hukum bagi keluarga Mahesa jika memang ingin membawa kejadian ini ke jalur hukum. Namun, masih tebersit wajah ketakutan dalam raut orang tua Mahesa.

“Kalau memang mau lapor ke polisi, kami siap berikan bantuan hukum kepada orang tua Mahesa. Tapi itu kembali lagi ke keluarga Mahesa,” papar Andi.

Mahesa adalah anak usia kelas 5 SD yang bersekolah di salah satu SD negeri di Pademangan Barat. Rumahnya sudah terbuat dari tembok permanen, tetapi berukuran kecil layaknya rumah padat kumuh Ibu Kota. Saat berangkat menuju Monas, Andi menyebut Mahesa dalam kondisi yang sangat fit sehingga salah besar jika Mahesa disebut tewas karena memang sedang sakit.

Kisah pilu juga datang dari keluarga Muhammad Rizki yang ternyata menderita down syndrome. Ia juga ditengarai menjadi korban tewas dalam pembagian sembako di acara “Untukmu Indonesia”. Rizki adalah warga RT 12/13 Pademangan Barat, Jakarta Utara, yang kesehariannya selalu menempel dengan ibunya.

Terpukul sangat dalam merupakan gambaran kondisi mental ibunda dari Rizki sejak kematian anaknya. Sering kali ia berkeliling berteriak menyebut nama anaknya. Warga yang melihat tidak bisa melarang. Mereka hanya bisa memandangi, mengelus dada, dan mendoakan agar ibunda Rizki bisa secepatnya ikhlas atas kematian nahas anaknya.

“Ibunya (Rizki) belum makan dari Senin malam. Dia suka keliling teriakin nama anaknya. Kita mah sedih banget ngeliatnya. Sekolahnya di SLB sekitar sini. Setiap hari ibunya ya ngurusin Rizki ini makanya sedih banget dia,” ujar tetangga keluarga Rizki, Umi Lauren, saat ditemui Republika.co.id di sekitar rumah korban, Selasa (1/5).

Dengan mengenakan kaus berwarna hijau, ibunda Rizki yang bisa dipanggil Ceu Kokom itu menceritakan kronologi kematian anaknya didampingi dengan kuasa hukumnya, Muhammad Fayyadh. Wajahnya masih sayu sehingga cerita kronologi lebih didominasi oleh suara sang kuasa hukum.

“Siang itu, terjadi dorong-dorongan dari belakangnya, tapi Ceu Kokom masih mampu menyelamatkan anaknya. Lalu, ada dorong-dorongan lagi dari depan di situ anaknya jatuh lalu terinjak-injak. Ceu Kokom pun berusaha mengangkat anaknya dan mencoba menghubungi panitia acara,” kata Fayyadh menjelaskan.

Ceu Kokom menghampiri seseorang diduga panitia yang tidak menggubris permintaan tolongnya itu. Kemudian, ada dua orang anggota TNI lewat yang sedang lari di sekitar Monas. Lantas Ceu Kokom meminta bantuan pada kedua anggota TNI itu. Kedua anggota TNI itu membawa Rizki ke posko. Ada tujuh dokter di sana, tetapi minim peralatan.

“Di sana dokter minim peralatan dan hanya membaringkan Rizki di tempat tidur. Setelah beberapa lama, akhirnya dokter menyarankan untuk merujuk Rizki ke RS Tarakan. Rizki pun dibawa menuju ke rumah sakit dengan ambulans posko,” kata Fayyadh menambahkan.

Kesal dengan pembagian sembako yang tidak jelas dan melihat anaknya kejang-kejang, Ceu Kokom lantas merobek kertas kupon yang ada di genggaman tangannya. Menurut kesaksian Ceu Kokom, pembagian sembako tidak dibagi-bagi dalam satu paket. Untuk mengambil satu paket sembako, pemilik kupon harus menghampiri meja satu per satu dari meja pertama yang menyediakan beras, lalu gula pasir, dan seterusnya.

Saat pembagian sembako, masyarakat harus mengambil satu per satu untuk dijadikan satu paket. Jadi, sembako yang dibagi-bagikan itu belum dijadikan dalam satu paket yang utuh, tetapi harus dihampiri ke tiap-tiap meja, sementara kondisi masyarakat sangat ramai pada saat itu.

Atas kejadian nahas yang diakibatkan pembagian sembako dengan sistem yang tidak jelas itu, Fayyadh akan mendatangi Polda Metro Jaya untuk membuat laporan serta melakukan pendampingan terhadap Ceu Kokom. Kepolisian diharapkan mampu menangani kasus ini hingga tuntas.

Seluruh stakeholder, baik dari panitia penyelenggara acara “Untukmu Indonesia”, Pemprov DKI Jakarta, maupun kepolisian, diharapkan bisa mengusut tuntas kasus yang menewaskan dua anak warga Pademangan Barat ini. Karena hingga saat ini, belum ada iktikad baik dari panitia acara untuk mendatangi keluarga kedua korban.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, membantah dua anak korban tewas yang ditemukan di sekitar Monas pada Sabtu (28/4) lalu akibat mengantre sembako. Argo pun menyebut salah satu korban, yakni MR, memiliki keterbelakangan mental.

“Setelah kita tanya dokter yang jaga, yang bersangkutan kekurangan cairan atau dehidrasi dan suhu badan tinggi. Menurut keterangan orang tua korban, korban ada riwayat keterbelakangan mental,” papar Argo saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Selasa (1/5).

Pihaknya membantah bahwa kedua anak tersebut tewas akibat mengantre sembako. Petugas kepolisian di sekitar Monas menyebut korban MJ (13) tergeletak di sekitaran Monas, lalu dibawa ke RS Tarakan masih dalam keadaan hidup. Namun, nahas, beberapa menit kemudian MJ dinyatakan meninggal.

Panitia Forum Untukmu Indonesia (FUI) mengakui adanya miss komunikasi dalam pelaksanaan acara membagi-bagikan sembako di Monas Sabtu (28/4) lalu yang berujung hilangnya nyawa dua anak kecil.

Ketua Panitia FUI Dave Santoso mengatakan, sejak awal pihaknya telah mengajukan izin untuk melaksanakan seluruh kegiatan, termasuk pasar murah. Untuk pasar murah, pihaknya telah membagi-bagikan kupon untuk masyarakat. Namun, belakangan panitia baru mengetahui kalau dalam peraturan gubernur terdapat larangan berjualan di Monas sehingga pihak panitia beralih membagi-bagikan secara gratis.

“Tengah- tengah (acara) kami ditegur, diimbau secara lisan. Seharusnya ada surat, secara tertulis yang bisa jadi landasan kita. Jadi, kami lakukan dengan pertimbangan kalau ini tidak dilaksanakan nanti jadi dampaknya akan lebih luas. Takutnya chaos,” kata Dave.

Mengenai kedua anak kecil yang menjadi korban, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Namun, menurut Dave, panitia telah berkunjung ke rumah korban dan menyatakan belasungkawa. [rol]

Comments

comments