KH. Yasin Munthohar Bungkam Orang Bodoh Yang Bilang “Khilafah Versi HTI”

0
590

Salah satu ulama Banten yang hadir dalam persidangan gugatan HTI di PTUN hari ini adalah KH. Yasin Munthohar. Beliau Pengasuh Pondok Pesantren Al Abqary, Serang Banten.

“HTI selama ini memperjuangkan Khilafah yang disepakati para Ulama Mu’tabar yang dijelaskan dalam “Kitab-kitab Ulama Mu’tabar”. Tidak ada “KHILAFAH VERSI HTI”, tegas beliau.

Hal ini beliau sampaikan untuk meluruskan penjelasan keterangan ahli dari Kemenkumham yang dihadirkan dalam kali ini.

Lebih lanjut beliau menjelaskan:

“Imam Al-Mawardi menyebutkan bahwa Imamah (Sinonim dari Khilafah) adalah kewajiban syariat berdasarkan “IJMA’” (kesepakatan), meski ada yang “NYELENEH” dari Ijma tersebut, yaitu al Ashomm (Abu Bakar al-Ashomm)”.

Jadi menurut imam al- Mawardi dalam kitab monumentalnya “Al Ahkam as Sulthoniyah”, yang menyatakan khilafah tidak wajib itu nyeleneh, “MINCULAK, BEDA TI BATUR”.

Imam al Qurthuby dalam tafsirnya “al Jaami’ li Ahkam Al-Quran” ketika menjelaskan QS Al Baqarah ayat 30 menyatakan :

الرابعة هذه الآية أصل في نصب إمام أو خليفة يسمع له ويطاع لتجتمع به الكلمة وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة ألا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم وكذلك من قال بقوله واتبعه على رايه ومذهبه

Keempat: Ayat ini adalah dalil tentang mengangkat imam atau khalifah yang haris didengar dan ditaati, agar umat menjadi satu dan agar hukum-hukum yang diserahkan pelaksanaannya kepada khalifah bisa dijalankan.

Tidak ada perbedaan pendapat tentang wajibnya mengangkat imam itu di antara umat dan di antara para ulama, kecuali yang diriwayatkan dari al Ashomm, karena ia “TULI DARI SYARIAT”. Begitu juga orang menyampaikankan perkataanya dan mengikuti pendapat dan madzhabnya.

Imam Qurthubi salah seorang “ULAMA MU’TABAR” umat ini, menyatakan orang yang mengatakan bahwa Khilafah itu tidak wajib adalah orang yang “TULI DARI SYARIAT”.

Imam Thohir Ibnu Asyur dalam Tafsirnya “At- Tahrir Wat Tanwir menjelaskan bahwa kewajiban mengangkat Imam (mewujudkan Khilafah) didasarkan pasa Ijma Sahabat. Karena itu siapa saja orang yang menentang Ijma tersebut tidak usah dilirik pendapatnya. Berdebat dengan orang seperti itu adalah sia-sia belaka.

أجمع أصحاب رسول الله بعد وفاة النبيء صلى الله عليه وسلم على إقامة الخليفة لحفظ نظام الأمة وتنفيذ الشريعة ولم ينازع في ذلك أحد من الخاصة ولا من العامة إلا الذين ارتدوا على أدبارهم من بعد ما تبين لهم الهدى ، من جُفاة الأعراب ودُعاة الفتنة فالمناظرة مع أمثالهم سُدًى

Para sahabat telah bersepakat setelah wafatnya Nabi SAW untuk mengangkat seorang khalifah untuk menegakan sistem umat dan menjalankan syariat.

Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama dan umat secara umum yang menentang ijma ini kecuali orang- orang yang kembali ke belakang (murtad) setelah jelasnya petunjuk kepada mereka, yaitu karangan bangsa Arab yang keras kepala dan para penyeru fitnah. Berdebat dengan orang-orang seperti mereka adalah sia-sia.

Begitulah sikap para ulama terhadap masalah Khilafah. Jelas gamblang bahwa khilafah adalah kewajiban yang tidak boleh ditentang

Di jaman now ini, tiba-tiba ada Profesor yang sok pintar, hanya karena ahli filsafat. Selain melarang “Cadar” dengan beraninya, dia mengatakan bahwa konsep khilafah “Ala HTI” tidak bisa diterpakan.

“Khilafah itu memang ajaran Islam, Khilafah itu kewajiban, namun khilafah versi HTI tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Kalau Khilafah versi saya bisa”, kata keterangan ahli tersebut.

Bahkan, dia mengatakan Khilafah yang didakwahkan HTI sebagai sebuah sistem pemerintahan adalah bahaya laten bagi indonesia. Karena Indonesia sudah punya kesepakatan (“Ijma”) . Dimana Ijma sahabat saat ini sudah Mansukh (dihapus) tidak berlaku lagi, diganti dengan kesepakatan bangsa Indonesia.

Rupanya sang profesor tidak menyadari siapa dirinya. Siapa Imam al Mawardi, siapa Imam Qurthubi, siapa Imam Thohir Ibnu Asyur. Beraninya dia menentang konsep khilafah sebagai sistem pemerintahan yang telah disepakati oleh ulama, kemudian menggantinya dengan khilafah versi dirinya.

Menurut dia yang paling cocok, sebagai Khalifah saat ini adalah “Donald Trump”. Bahkan untuk indonesia “Jokowi” adalah Khalifah. Sehingga ketika HTI mau mewujudkan Khilafah di Indonesia maka akan mengakibatkan adanya dua khalifah. Jika ada dua Khalifah maka khalifah yang kedua harus dibunuh.
اذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما

KH Yasin mengingatkan kaum muslimin agar tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang lurus, jangan mudah berpaling. Meski ada orang menyatakan bahwa khilafah itu wajib namun tidak mau mewujudkannya dalam kehidupan, maka sama saja dengan tidak menyetujui kewajiban tersebut.

Karena orang yang beriman ketika menghadapi kewajiban maka dia akan mendahulukan iman bukan rasio. Dia akan menjalankan kewibawaan tersebut tanpa melihat situasi dan kondisi.

Bagi saya sebagai orang awam kalau ditanya “Mau mengikuti pendapat para Ulama Mu’tabar seperti Imam Mawardi asy-Syafi’i, Imam Qurthuby dan Imam Thahir Bin Asyur, yang semuanya adalah ahli fiqh dan ahli tafsir, yang sudah menyatakan bahwa khilafah tidak bisa ditawar-tawar atau mau mengikuti Profesor yang menentang konsep khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan dan “Melarang Cadar”, yang menyatakan bahwa Ijma Sahabat itu sudah Mansukh oleh Ijma bangsa Indonesia, yang menyatakan bahwa Khilafah merupakan ajaran Islam itu adalah bahaya laten bagi Indonesia, yang menyatakan bahwa yang paling layak menjadi Khalifah saat ini adalah Donald Trump?

Dengan tidak ragu-ragu lagi akan saya tegaskan ” SAYA AKAN MENGIKUTI ULAMA”.

Sekarang saya ingin bertanya kepada kawan-kawan semua, mau ikut siapa?

sumber: mediasiar

Comments

comments