Guruku Pahlawan Yang Terabaikan

0
612

Oleh : Amallia Fitriani

Diberitakan puluhan guru honorer kategori 2 (k2) sedang berkumpul di Alun-Alun Sumedang tengah berdiskusi di kantor Badan Kepegawaian Sumberdaya Manusia Kabupaten Sumedang, mereka mempertanyakan kepada pemerintah tentang peluang pengangkatan mereka menjadi CPNS. Pikiran-rakyat.com

Pemberitaan diatas sungguh memprihatinkan, mereka berharap banyak kepada pemerintah akan kejelasan nasib mereka, karena selama ini sudah kita ketahui gaji sebagai guru honorer tidak sebesar gaji guru PNS, mungkin bisa dikatakan amat jauh dari kata layak, gaji yang kurang lebih sebesar Rp.250.000, harus cukup memenuhi kebutuhan hidup di zaman yang serba mahal ini.

Kesenjangan pendapatan antara guru PNS dan guru honorer serta ditambah dengan kebutuhan hidup yang serba mahal inilah yang mendorong para guru honorer menuntut kejelasan nasib mereka kepada pemerintah, ditambah lagi dengan adanya wacana pemerintah terkait perubahan struktur gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) semakin meresahkan para guru honorer, karena wacana tersebut dinilai akan semakin menyakiti para tenaga honorer.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi Suprijadi mengatakan, perubahan struktur gaji tersebut dinilali akan semakin membuat kesenjangan pendapatan PNS dengan tenaga honorer akan semakin lebar, sebab perubahan struktur tersebut meningkatkan gaji para PNS. “akan lebih jauh lagi kesenjangannya, ya itu membuat sakit hati pegawai honorer padahal kerjanya sama, tugasnya sama, tanggung jawabnya sama, tetapi penghasilannya sangat tidak sesuai”. Liputan6.com

Bisa kita lihat perbedaan yang amat mencolok penghargaan yang diberikan kepada guru PNS dan guru honorer, peran guru honorer terpinggirkan bagaikan anak tiri, padahal faktanya mereka melaksanakan tugas yang sama, yaitu mengajar dengan jumlah waktu mnengajar yang sama pula, bahkan sampai ada yang menjadi pembina kegiatan di sekolah.

Kesenjangan yang menimpa kepada tenaga kependidikan yang berstatus honorer ini, merupakan bentuk ketidak seriusan Negara dalam mensejahterakan rakyatnya, Negara telah abai memberikan penghargaan kepada pahlawan yang telah berjasa mencerdaskan rakyat.

Permasalah di atas tidak akan terjadi apabila sistem islam diterapkan, sebab dalam pandangan Islam guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Serta tidak akan ada perbedaan antara guru PNS dan guru honorer, keduanya sama dalam pandangan Islam, karena guru merupakan pelantara bagi seseorang untuk memperoleh ilmu.

Sejarah Islam mencatat bagaimana guru begitu mendapatkan penghargaan yang amat tinggi dari Negara termasuk pemberian gaji. Diriwayatkan dari ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad Dimasqi, dari al-Wadl-lah bin Atha, bahwanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah umar bin Khattob memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas, bila saat ini 1 gram emas = Rp.500.000 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya Rp.31.875.000 ribu). Itu merupakan jumlah yang sangat luar biasa, selain mendapatkan gaji yang besar para guru juga mendapatkan fasilitas penunjang pendidikan dan kemudahan untuk meningkatkan kualitas mengajarnya, maka hal ini akan membuat para guru bisa lebih fokus untuk menjalankan fungsinya sebagai pendidik dan mencetak SDM yang berkualitas yang akan membangun peradaban yang gemilang.

Namun amat disayangkan, kesejahteraan guru seperti di atas tidak akan didapat jika sistem Islam tidak diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, karena hanya dengan menerapkan sistem Islamlah satu-satunya solusi yang akan menuntaskan semua permasalahan kehidupan. Wallahu a`lam bi ash-shawab.

Comments

comments