Ketakutan Penguasa Ketika Ulama Berpolitik

0
585

Salah satu pegiat media sosial yang juga merupakan entrepreneur coba memberikan sebagian pengetahuannya seputar agama Islam memandang perpolitikan. Pasalnya, di tulisannya ini, seakan ada oknum atau kelompok yang saat ini coba membuat abu-abu bahwa Islam melalui ulamanya tak apa berpolitik.

Berikut twit Azzam M. Izzulhaq melalui akun pribadi miliknya: K.H. Hasyim Asy’ari itu Ketua Umum Partai Masyumi pertama. Partai ini adalah partai Islam terbesar pada zamannya karena adalah gabungan dari kekuatan massa, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah.

Partai ini berideologi Pan-Islamisme (persatuan dan kebangkitan Islam). Dari Partai Masyumi inilah Muhammad Natsir dan Burhanuddin Harahap kemudian menjadi Perdana Menteri Indonesia.

Mbah Hasyim adalah bukti bahwa #UlamaDanPolitik tidak bisa dipisahkan. Politik adalah bagian dari kesatuan Islam. KH. Maimun Zubair (Mbah Moen), pimpinan Ponpes Al Anwar Rembang adalah Dewan Syuro Partai Pesatuan Pembangunan. Beliau pernah menjadi Anggota DPRD Rembang. Kemudian menjadi anggota MPR selama 3 periode. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengawali karir politiknya di PPP.

Beliau pun pernah menjadi Anggota MPR dari Golkar. Kemudian pada era reformasi mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa. Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke-3, karir politik tertinggi. Dan banyak lagi para ulama yg dari dulu masuk ke dalam dunia perpolitikan Indonesia yang berbasis dari Masjid dan Pesantren. Mereka mewarnai demokrasi di Indonesia dengan beragam riaknya. Hari ini, di tahun politik ini, ada kekuatan yang tidak senang dan mengkampanyekan bahwa #UlamaDanPolitik itu haram, Islam tidak boleh berpolitik dan narasi sejenis lainnya.

Pada intinya, mereka tidak senang nilai-nilai Islam mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, masifnya narasi ulama tidak boleh berpolitik ini hanya semakin memperjelas bahwa tahun ini mereka pada kondisi TAKUT LUAR BIASA.

Di atas kertas mereka telah kalah sebelum bertarung dengan sesungguhnya. Tidak ada lagi yang bisa mereka jual. Ketokohan incumbent dengan popularitas dan elektabilitasnya tergerus. Citra partai mereka sudah tercium bau hangus. Satu-satunya cara bagi mereka adalah memecah kesolidan umat Islam melalui ulamanya.

Tak perlu khawatir. Karena tidak ada yang salah dengan membawa agama dalam politik. Bangsa ini merdeka karena perjuangan atas nama agama dan politik. #UlamaDanPolitik adalah baik. Tabik.”

Comments

comments