Demokrasi adalah ilusi simalakama beracun

0
328

ILUSI SIMALAKAMA DEMOKRASI

Amin S (LANSKAP)

Hiruk pikuk pesta demokrasi akan berlangsung secara akbar antara 2018-2019. Dan seperti biasanya, buncahan harapan rakyat akan bertemu dengan gelontoran janji-janji kampanye. Sudah begitu sejak 1955, 62 tahun lalu. Maka silakan baca sejarah, apakah harapan dan janji itu pernah bisa benar-benar terwujud? Jika iya, mustahil negeri ini sekarang menanggung hutang 4 ribu T lebih, dan yang pasti mustahil ada yang mati karena kelaparan.

Demokrasi adalah ilusi simalakama beracun. Dalam riwayatnya yang sudah ratusan tahun, demokrasi benar-benar telah berhasil mengilusikan milyaran manusia akan indahnya hidup dalam naungan demokrasi. Ya, kunci kekuatan utama demokrasi adalah menciptakan ilusi simalakama sehingga membuat pengikutnya tak sanggup lari darinya meski sebenarnya juga tak sanggup menanggung derita akibatnya

Demokrasi mengunci akal dan batin pengikutnya seolah tak ada pilihan selain demokrasi, padahal mereka secara nyata merasakan rentetan derita tanpa akhir akibat demokrasi. Persis, seperti yang terjadi di negeri ini selama 62 tahun sejak pemilu pertama 1955. Sejak saat itu bangsa ini dengan sukarela menelan racun dengan label ‘madu’ bernama demokrasi. Harapan demi harapan kandas, janji demi janji menguap. Kemakmuran tak jua mampir, keadilan tak jua berkunjung. Hanya sakit demi sakit yang terkecap, derita demi derita datang menghujam.

Jadi, benarkah tak ada jalan lain selain demokrasi? Mungkinkah Alloh SWT yang Mahasempurna yang menciptakan sistem cacat lahir-batin bernama demokrasi? Ataukah sebenarnya Dia telah menitipkan cara bernegara yang benar, baik dan adil namun kita yang tak pernah mau terjaga dari ilusi simalakama demokrasi?

Comments

comments